Monday, May 22, 2017

Mindhorn (2016)



4 / 5


"Tolol !!!"
Ya, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan film yang bercerita tentang seorang aktor paruh baya  yang sudah kehilangan popularitasnya dan harus berurusan dengan sebuah kasus pembunuhan ini.

Film yang diisi dengan komedi konyol, sarkas nan garing ini memang terbilang "tolol", namun entah kenapa malah terasa efektif dalam mengocok perut.

Adegan aksi, plot, maupun ceritanya juga tidak bisa dibilang pintar, tapi terasa enjoyable dengan alurnya yang ringan namun penuh twist-and-turn.


Overall, Mindhorn merupakan Comedy-Thriller campy, cheesy bin tolol namun fun, enjoyable dan sukses dalam mengundang gelak tawa.*


Highly Underrated, imo.



* Humornya mungkin bukan tipe humor yang bisa mengena di semua penonton, tapi yang pasti ngena di gw. :D

Thursday, May 4, 2017





The Witness for the Prosecution (2016)




3.5 / 5


Jika versi tahun 1957-nya lebih berfokus pada persidangan-nya yang diisi dengan twist-and-turn yang "nonjok" banget, maka versi 2016-nya ini lebih banyak menyoroti sisi latar belakang serta psikologis sang protagonis (Toby Jones) dan karakter lainnya.

Secara keseluruhan memang tidak se-dahsyat versi 1957-nya, tetapi versi remake-nya ini juga terbilang cukup memikat berkat atmosfir serta tone-nya yang lebih dark, meskipun bertempo sedikit lebih lambat.


* Cocok untuk penonton yang "malas" menonton versi jadul-nya karena alasan tidak berwarna, walaupun sebenarnya sangat disayangkan melewatkan versi 1957-nya yang (imo) lebih superior.

** Cocok juga untuk yang sudah menonton versi jadulnya, karena disini mengambil sudut pandang yang agak berbeda, sehingga bisa sebagai "pelengkap", meski anda sudah mengetahui twistnya.




And Then There Were None (2015)



4 / 5


Temponya memang lebih lambat dari versi 1945-nya (kebetulan versi ini yang udah ane tonton sebelumnya, belum nonton versi yang lainnya), tetapi digarap dengan sangat baik, lebih detail dan dengan dukungan cast yang solid, serta tentunya dengan misterinya yang membuat bertanya-tanya (apalagi jika anda belum pernah menonton atau mengetahui twist-nya).

Tone, atmosfir, serta ceritanya juga lebih kelam mengikuti novelnya, dimana hal ini yang menjadi keunggulannya dibanding versi 1945-nya.

Overall versi ini lebih bagus dari versi 1945 , tetapi (bagi yang belum pernah menonton) tidak ada salahnya menonton versi 1945-nya juga untuk mengetahui perbedaan endingnya.

Monday, May 1, 2017




A Dark Song  (2016 / 2017)



3.5 / 5



Sebuah Drama-Horror bertempo lambat dan mungkin bukan untuk semua orang, namun terbilang cukup unik.

Tidak terlalu mengandalkan penampakan-penampakan yang menyeramkan, tetapi lebih berfokus pada psikologis sang protagonis serta adegan ritual yang terbilang lumayan detil.

A Dark Song juga disokong dengan atmosfir gloomy nan kelam sebagai pengganti trik jump-scare yang memang bukan menjadi andalan di film ini.


Ending yang disajikan disini juga terbilang cukup berbeda dari kebanyakan film bergenre serupa, dimana sekilas mungkin tampak "lembek", tetapi di sisi lain mampu memberikan rasa yang berbeda serta pesan yang baik.



Review Rombongan


Bacalaureat / Graduation (2016 / 2017)


3.5 / 5


Meski tidak se-menohok 4 Months, 3 Weeks, 2 Days, tetapi Cristian Mungiu mampu memberikan sebuah Drama Keluarga (ada sedikit crime juga) dengan berbagai konfliknya secara natural dan memikat.

Cocok di-double feature dengan Child's Pose



Sieranevada (2016)


3 / 5


Penyajiannya yang begitu natural layak untuk diacungi jempol.
Dialog-dialognya juga diisi dengan beragam tema mulai dari sosial, politik, agama plus sisipan humor juga.
Tetapi sayangnya konflik yang dihadirkan terasa hambar dan kurang "greget", sehingga durasi yang hampir 3 jam terasa cukup melelahkan.



Kollektivet / The Commune (2016 / 2017)


2.5 / 5


Jika biasanya Thomas Vinterberg mampu memberikan sebuah drama yang mengaduk-aduk emosi penonton seperti misalnya Jagten dan Festen, namun tidak kali ini.
Kollektivet terasa membosankan, datar, dan diisi dengan humor yang tidak lucu.
Sangat disayangkan, mengingat Trine Dyrholm tampil menawan disini.



Serial Mom (1994)


3.5 / 5


Adegannya mungkin terkadang kelewat konyol, tetapi overall Serial Mom tampil solid sebagai sebuah komedi-thriller yang berdarah-darah, disturbing, tetapi juga fun dan enjoyable serta memiliki tone yang ceria.



Personal Shopper (2016 / 2017)


3 / 5

Meski lambat tetapi cukup unik dengan penggabungan berbagai genrenya seperti Drama psikologis, misteri, ghost-story, dan thriller.

Namun, sayangnya penggabungannya terasa kurang maksimal, meskipun tidak jelek dan cukup enjoyable secara keseluruhan.



The Man with Two Brains (1983)


3.5 / 5

Humornya memang garing, bego bin tolol, serta lumayan cabul.. tetapi anehnya sukses bikin ngakak .

Musik di end credits juga keren, gw suka, berasa gothic-retro prog-rock gitu.

Friday, April 21, 2017




Hymyilevä mies / The Happiest Day in the Life of Olli Mäki (2016 / 2017)


4 / 5



"Sederhana" adalah sebuah kata yang rasanya paling pas untuk menggambarkan film Sport (Boxing) - Drama asal Finlandia ini.

Digarap dengan visual hitam-putih, serta tidak memiliki adegan-adegan yang terbilang "wah", The Happiest Day in the Life of Olli Mäki justru tampil natural, simple, dan tetap memikat dengan perpaduan Drama, Romance , Komedi, dan Sport-nya yang terasa begitu pas, tidak berlebihan dan tidak kekurangan (walaupun mungkin agak kurang pas untuk penonton yang mengharapkan film tinju dengan pertarungan super seru macam Rocky dan lainnya).

Overall, The Happiest Day in the Life of Olli Mäki adalah sebuah film sederhana yang indah dan memiliki bermacam rasa, terkadang lucu, terkadang menyentuh, terkadang pahit namun juga manis.




* Satu hal lagi yang gw suka dari film ini adalah pesan yang disampaikan, yaitu:
Untuk sebagian orang, Kebahagiaan itu datang bukan dari popularitas, uang, atau karir/jabatan yang tinggi, tetapi datang dari hal yang lebih "sederhana", yaitu orang yang kita sayangi.


Friday, April 7, 2017


The Void (2016 / 2017)



3.5 / 5



Meski memiliki plot yang mungkin kurang "dalam" dan agak membingungkan, The Void unggul dari sisi penyajiannya yang efektif dengan mengangkat tema kelam ala Cthulhu-nya H. P. Lovecraft, lalu menambahkannya dengan blood and gore serta rasa old-school, yang akan membawa ingatan penonton kembali ke jaman film-film horror "jadul" garapan John Carpenter ataupun George A. Romero.


Tidak perlu berpanjang lebar, intinya jika anda mencari tontonan menghibur yang berdarah-darah, bertensi tinggi, dark, creepy & scary, untuk ditonton malam-malam, ini adalah santapan pas untuk anda.


Sunday, April 2, 2017



The Blackcoat's Daughter / February (2015 / 2017)




4 / 5



Film Horror yang disukai oleh kebanyakan penonton biasanya memang tipe film yang bisa membuat penontonnya "jantungan" dan juga memancing penonton wanitanya  (tidak tertutup kemungkinan juga cowok-cowok, ha3) untuk berteriak ketakutan.

Tetapi bukannya menggunakan formula "populer" seperti yang disebutkan di atas, film ini lebih memilih untuk menyajikan sebuah Horror bertempo lambat, sepi, dan minim (atau malah bisa dibilang hampir tidak ada) jump-scare, sehingga tidak terlalu mengherankan juga jika film ini mendapat sambutan yang terbilang "dingin" dari sebagian besar penonton.*


Meski demikian, untuk para penyuka tipe Slow Burning- Horror (termasuk ane salah satunya, he3), The Blackcoat's Daughter tampil sangat solid dengan atmosfir kelam nan creepy yang menyokong suasana sepi dan terisolasi yang ditampilkan sepanjang film, plus adegan brutal dan disturbing yang (meski tidak diumbar terlalu banyak secara visual, tetapi) terasa begitu efektif dalam membuat penonton bergidik.


Overall, The Blackcoat's Daughter tampaknya memang bukan untuk penonton yang ingin "senam jantung", tetapi lebih ditujukan kepada pecinta Horror atmospheric yang creepy, dark, dan disturbing... dengan sokongan alur yang (sebenarnya tampak sederhana, familiar, dan predictable, tetapi tetap) memikat dan twisty **.


Highly Underrated, imo.





* Terbukti di IMDB film ini mendapat rating yang terbilang jeblok, meskipun mendapat review yang positif dari para kritikus.

** Saran ane sih kalo mau nonton ini, ga usah nonton trailer, ga usah liat sinopsis filmnya tentang apa, makin ga tau apa-apa makin bagus, imho.